Menristek Berikan Penghargaan Kepada 102 Inovator Indonesia

Anang Lastriyanto Menerima Penghargaan 102 Inovasi Indonesia atas Karyanya Mesin Penggoreng Vakum/ Vacuum Fryer Machine / Mesin Vacuum Frying dari Menristek.

Berdasarkan laporan terbaru World Economic Forum (WEF), posisi peringkat Indonesia terkait Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index telah meningkat dari 54 pada tahun 2009 menjadi 44 di tahun 2010. Pencapaian ini menunjukkan keberhasilan pertumbuhan pembangunan ekonomi di Indonesia, yang ditandai dengan semakin sehatnya kondisi ekonomi makro dan naiknya indikator pendidikan. Setelah amandemen konstitusi Indonesia tahun lalu untuk menempatkan setidaknya 20% dari anggaran pemerintah pada sektor pendidikan, kebijakan ini telah menjadi langkah mendasar untuk meningkatkan secara substansial sektor pendidikan dalam membentuk fondasi yang kuat bagi masyarakat berbasis pengetahuan di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menristek, Suharna Surapranata saat memberikan sambutan pada acara Anugerah 102 Inovasi Indonesia di Gedung Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, pada hari Selasa 12 Oktober 2010.

Menristek juga menyampaikan laporan WEF lainnya yang menyebutkan bahwa Indonesia sekarang termasuk kategori negara yang berada pada tahapan transisi dari negara yang factor-driven (negara yang perekonomiannya digerakkan oleh faktor alami seperti sumber daya alam dan buruh) menuju efficiency-driven (negara yang perekonomiannya sudah berbasis kepada proses produksi yang efisien). ”Tentunya kita berharap bahwa kita akan terus maju sehingga betul-betul bisa masuk ke kategori negara efficiency-driven dan bahkan seterusnya sampai ke kategori negara yang innovation-driven” ujar Menristek.

Meski demikian, dalam pandangan Menristek, masih ada beberapa aspek yang diperlukan untuk perbaikan, terutama persoalan infrastruktur dan kesiapan teknologi, termasuk penggunaan ICT. Hal ini cukup penting mengingat laporan WEF, menempatkan salah satu dari 70 aspek yang dinilai yaitu indeks kesiapan teknologi Indonesia masih cukup rendah. Kondisi ini agak berbeda dengan indeks aspek kapasitas inovasi Indonesia yang justru membaik. Indikator kapasitas inovasi secara terus-menerus naik pada peringkat 47 di tahun 2008, melompat ke 39 tahun 2009, dan tahun ini naik ke posisi di 36.

Perbedaan peringkat antara kesiapan teknologi dan indikator kemampuan inovasi menunjukkan tantangan mendasar dalam pengembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) Indonesia, di mana interaksi yang kuat antara kalangan universitas dan lembaga-lembaga litbang -sebagai penyedia teknologi- dan industri serta masyarakat secara umum -sebagai pegguna teknologi- belum berjalan baik.

Dari sisi inilah, Kementerian Riset dan Teknologi sangat menyadari masalah tersebut dan berusaha memfokuskan upaya menjembatani kesenjangan pengetahuan antara perguruan tinggi dan lembaga-lembaga litbang dengan kalangan industri. “Pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun sebuah “panggung inovasi” yang menjadi tempat interaksi aktor-aktor inovasi dalam suasana yang kondusif untuk penciptaan nilai berbasis knowledge. Karenanya “panggung” ini harus didukung oleh pilar-pilar kebijakan lintas sektoral seperti kebijakan ekonomi, insentif pajak dan keuangan, infrastruktur, pendidikan dan ketenagakerjaan yang saling sinergi secara harmonis dan saling mendukung”, tegas Menristek.

Pada kesempatan tersebut Menristek secara simbolis menyerahkan penghargaan kepada 12 perwakilan (foto: Anang Lastriyanto) dari 102 orang inovator yang karyanya terpilih sebagai “102 Inovasi Paling Prospektif tahun 2010”. Pemilihan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Business Innovation Center dan karya inovasi para pemenang tersebut telah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul 102 Inovasi yang diluncurkan pada bulan Agustus 2010

Revitalisasi Puspiptek

Kehadiran Menristek pada acara tersebut sekaligus menandai pencanangan program revitalisasi kawasan Puspiptek sebagai Science Techno Park (STP) dalam kerangka penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Menurut Menristek, Puspiptek harus bisa menjadi kawasan yang menjembatani antara kepentingan dunia industri atau dunia usaha dengan kalangan peneliti, baik dari universitas maupun lembaga-lembaga litbang pemeritah. Sebab selama ini pola intermediasi antara kalangan dunia industri dengan peneliti belum berjalan dengan baik. Padahal interaksi yang kuat antara kedua belah pihak akan sangat membantu menggerakkan roda ekonomi melalui inovasi-inovasi yang dihasilkan.

Dalam jangka pendek Kementerian RISTEK merencanakan untuk membangun lembaga intermediasi Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC) yang berpusat di gedung ini yang nantinya akan menjadi gateway kawasan PUSPIPTEK menuju industri yang mulai beroperasi tahun 2011. Menristek berharap Lembaga BTC/BIC akan berfungsi sebagai marketing hasil-hasil inovasi ke dunia industri dan sekaligus menjadi komunikator akan kebutuhan industri terhadap teknologi yang perlu dikembangkan oleh para peneliti, sehingga ke depan penelitian akan lebih banyak berangkat dari kebutuhan atau demand-driven. “Dengan adanya lembaga intermediasi seperti ini diharapkan terjadinya knowledge transfer yang lancar dari dunia penelitian ke industri”, Ujar Menristek.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Komite Inovasi Nasional Prof. Dr. Zuhal, para Kepala LPNK, pejabat di lingkungan Kemenristek, dan beberapa tokoh pengusaha nasional seperti Mochtar Riady (Lippo Group), Betty Alisjahbana (QB International), Boen Setiawan (Kalbe Group), Iman Taufik (Gunanusa Fabricators), dan Yudhi Hermanu (GAIA Corps).

Acara ditutup dengan kunjungan ke beberapa fasilitas Puspiptek, di antaranya Sentra Teknologi Polimer BPPT, Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, Laboratorium Radio Isotop dan Radio Farmaka BATAN, Pusat Penelitian Fisika LIPI serta Laboratorium Pengembangan Teknologi Industri Agro dan Biomedika. (humasristek/ahm/mwr/ad-tikm)